Selamat Datang di Situs Resmi Pengadilan Agama Marabahan Kalimantan Selatan | Media Informasi & Transpransi Pengadilan Agama Marabahan
 

Keluarga Syurga dan Nerakamu

   Setiap orang selalu mendambakan keluarga yang harmonis, dalam bahasa agama di kenal dengan sakinah mawaddah wa rahmah.

 

   Keluarga dimana suami bertanggung jawab terhadap nafkah istri dan anak-anaknya serta membimbingnya dalam Islam, istri yang patuh kepada suaminya dan menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah tangga (melayani suami, mengasuh dan mendidik anak-anaknya), serta anak-anak yang patuh dan hormat kepada orang tuanya.

 

   Tetapi tidak selalu apa yang diinginkan sesuai dengan kenyataan. Betapa banyak keluarga berantakan karena fungsi-fungsi yang telah di atur oleh Islam tidak dijalankan dengan sempurna, suami, istri dan anak-anak tidak menjalankan fungsinya masing-masing. Sehingga rumah bagai neraka dan tidak ada yang betah didalamnya, semuanya ingin keluyuran di luar rumah mencari hiburan. Di dunia saja sudah bagaikan neraka, bagaimana nanti di akhirat?

 

   Suami hanya sekedar memberi nafkah (sandang, pangan dan papan) tetapi tidak memberikan bimbingan agama kepada istri dan anak-anaknya, serta jarang berkomunikasi dengan mereka. Istri asyik mengejar karir (mubah) sehingga melupakan tugas utamanya (kewajiban) dalam melayani suami, mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Mereka asyik dengan aktifitas dan hobinya masing-masing sehingga anak-anak hidup tanpa bimbingan orang tua, kemudian menjadi anak-anak yang sulit di atur, melawan kepada orang tuanya dan hidup bebas sesukanya.

 

  Semua keruwetan dalam rumah tangga di atas di dukung pula oleh lingkungan yang tidak islami, kehidupan yang tidak di atur secara Islam, tontonan TV yang merusak aqidah dan akhlaq, VCD/DVD porno, minuman keras dan narkoba yang mudah di dapat, serta berbagai kerusakan lainnya.

 

Suami Pemimpin

 

  Dalam Islam, suami berfungsi sebagai pemimpin tidak hanya sekedar memberikan nafkah berupa sandang/pakaian, pangan/makanan (Al-Baqarah 233) dan papan/tempat tinggal (Ath-Thalaq 6).

 

  Kaum pria (para suami) adalah pemimpin kaum wanita (para istri), karena Allah telah memberikan kelebihan kepada sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah memberikan nafkah dari sebagian harta mereka (An-Nisa’ 34).

 

  Tetapi ada kewajiban yang sangat penting yakni membimbing istri dan anak-anaknya sesuai dengan tuntunan Islam agar mereka selamat di dunia  dan akhirat.

 

   Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (At-Tahrim 6)

 

   Artinya, seorang suami harus memberikan tuntunan Islam kepada istri dan anak-anaknya, idealnya secara berkala (misal: seminggu sekali) dia menyediakan waktu sehabis shalat jama’ah untuk menjelaskan berbagai hal tentang Islam; aqidah, akhlaq, fiqih ibadah dan mu’amalah.

 

   Topik yang diberikan bervariasi sesuai dengan umur sang anak dan tingkat kepentingannya, jika shalatnya belum benar maka jelaskan tentang tata cara shalat (fiqih ibadah), anak memasuki usia baligh maka jelaskan hukum seorang mukallaf, TV mengiklankan ramalan maka jelaskan tentang paranormal dan dukun (aqidah), ada tetangga yang bergunjing maka jelaskan tentang ghibah (akhlaq), bagaimana mencintai dan menghormati orang tua (akhlaq), begitu seterusnya. Dengan demikian mereka terbiasa berfikir dalam kerangka Islam, sehingga diharapkan kelak ketika menemui permasalahan dalam kehidupannya dia selalu menggunakan Islam sebagai solusinya.

 

  Secara berkala perlu diperhatikan tata cara (fiqih) shalat yang mereka lakukan, apaka sudah benar (sesuai dengan as-sunnah) atau belum. Misal: 1-2 bulan sekali menyuruh anak melakukan shalat dengan bacaan yang keras, kemudian diperhatikan gerakan dan bacaan shalat, jika salah dibetulkan. Juga diperhatikan apakah pakaiannya telah menutup aurat, bagaimana kemampuannya membaca Al-Quran, apakah akhlaqnya sesuai dengan Islam, dengan siapa saja dia bergaul (teman-teman yang baik dan saleh atau nakal) dan lain-lain. Makan malam juga merupakan media yang baik untuk saling berkomunikasi, menanyakan kehidupannya di luar rumah dan memberikan nasehat berdasarkan Islam.

 

   Berat memang, bagaimana mungkin seorang suami bisa memberikan tuntunan Islam kepada istri dan anak-anaknya jika dia sendiri tidak mempunyai bekal pengetahuan tentang Islam. Tetapi justru hal ini menjadi motivasi bagi para suami untuk mengkaji Islam, mengamalkan dan mengajarkan (minimal) kepada keluarganya. Disamping itu, ini kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan, sama saja dengan kewajiban yang lain seperti shalat, puasa, zakat dan haji.

 

  Jika fungsi (kewajiban) ini berhasil dia jalankan maka insyaallah tiket syurga sudah di tangan, ketika dia mampu menjadikan istri dan anak-anaknya termasuk orang-orang yang saleh.

 

   Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga (HR At-Tirmidzi).

 

  Sebaliknya jika dia gagal dalam menjalankan fungsinya maka neraka sebagai balasannya. Bisa jadi, dia seorang yang saleh tetapi dia biarkan istri dan anak-anaknya hidup tanpa tuntunan Islam, maka di akhirat nanti suami yang nyaris masuk syurga ini akan dimintai tanggung jawab oleh istri dan anak-anaknya kenapa membiarkan mereka dalam keadaan demikian. Kemudian malaikat akan menyeretnya ke dalam neraka. Na’udzubillah.

 

Istri Saleh

 

  Kewajiban seorang istri adalah melayani suami serta mengasuh dan mendidik anak-anaknya, selain itu bisa berupa sunah atau mubah saja baginya. Jika dia lebih mementingkan karirnya (mubah), sementara dia melalaikan fungsinya dalam melayani suami serta mengasuh dan mendidik anak-anaknya maka dia mendahulukan yang mubah (tidak ada pahalanya) dan meninggalkan yang wajib (berdosa). Alangkah ruginya dia, tidak memperoleh pahala tetapi malah berdosa.

 

  Bolehkah istri bekerja?, boleh saja selama diizinkan oleh suaminya, kewajibannya sebagai istri dipenuhi dan mampu menjaga dirinya dari kemaksiaatan; pekerjaan yang sesuai dengan fitrah kewanitaannya, menutup aurat, tidak melakukan khalwat dan tabarruj (bersolek).

 

   Seorang istri juga harus patuh kepada suaminya karena Allah swt telah menunjuk suaminya sebagai pemimpin keluarga, dia harus mengikuti perintah suaminya selama suami tidak menyuruhnya untuk bermaksiat kepada Allah swt. Dia harus patuh ketika di suruh menutup aurat, tetapi dia boleh menolak ketika di suruh membeli kupon togel.

 

   Kasus-kasus perceraian yang sering kita saksikan di media cetak dan elektronik, salah satu faktor utamanya adalah ketidak-patuhan istri terhadap suami (nusyuz). Mungkin merasa lebih terkenal, penghasilan lebih besar, lebih kaya, lebih tinggi pendidikannya atau lebih tinggi derajatnya (bangsawan), maka dia tidak lagi menghargai dan menghormati suaminya.

 

  Secara logika, tentu saja suami sebagai pemimpin merasa dilecehkan ketika fungsinya sebagai pemimpin tidak diakui, sehingga akhirnya rumah tangga berantakan. Tetapi fungsi kepemimpinan suami ini tidak menjadikannya seorang diktator yang dzalim, sewenang-wenang dan suka kekerasan. Suami juga bermusyawarah dalam berbagai hal, bersikap baik, lemah lembut, melindungi dan menghormati istrinya karena begitulah akhlaq Rasulullah saw terhadap keluarganya.

 

  Dan pergauilah isteri-isteri kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (An-Nisaa 19).

 

   Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang terbaik terhadap istri-istrinya (HR At-Tirmidzi).

 

  Dengan menjalankan fungsinya secara benar maka lebih mudah bagi seorang wanita masuk syurga dibandingkan laki-laki, karena dia tidak wajib berjihad dan bekerja mencari nafkah. Jika dia menjalankan ibadah, menjaga kehormatannya dan patuh kepada suami maka syurga jaminannya.

 

  Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta ta’at akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dikehendaki (HR Ahmad & Thabrani).

 

   Peran yang dijalankan secara sempurna oleh ayah dan ibu akan menciptakan anak-anak yang saleh, anak-anak yang patuh dan hormat kepada orang tuanya, rajin beribadah kepada Allah swt dan tidak ikut larut dengan pergaulan bebas remaja. Bukankah ini yang kita dambakan?

 

Wallahua’lam

 

Total akses : 1782